Postingan

payudara

Malam ini, aku memulai untuk menulis kembali dan mau mulai lagi untuk rutin menulis seminggu sekali. Karena mulai sadar akhir-akhir ini aku merasa kesulitan untuk menulis tentang apa yang aku rasa. Padahal rindu sekali untuk menulis puisi, setidaknya biar pikiran tidak semrawut dan isi kepala tersalurkan serta menjaga aku untuk tetap menjadi manusia.

Wacana menulis topik ini sudah dari beberapa bulan yang lalu. Tujuanku menulis tentang ini selain untuk mengutarakan isi pikiran juga bentuk usaha untuk bermanfaat bagi orang lain, walaupun kedengarannya cheesy sekali ya.
Latar belakang aku menulis ini karena teguran dari ibuku beberapa bulan yang lalu  yang sebenarnya sudah dilontarkan cukup lama. Kata beliau (dan mungkin juga orang lain) kalau kita nggak pakai bra, nanti bentuk payudaranya jelek. Jujur aja waktu itu aku baru merasa risih, padahal sebelumnya juga udah dibilangin seperti itu. Kenapa harus mempermasalahkan sebuah bentuk tubuh manusia sih? Aku tahu ini bukan masalah baru la…

Pusang

ia ingin menulis tapi pulpennya tak ada tinta suara-suara di kepalanya beradu riuh tentang siapa yang harus keluar lebih dulu
tangannya sudah menggenggam pulpen siap untuk menulis air dihadapannya sebentar lagi habis
ia menggigit bibir bawahnya mengetukkan ujung pulpen pada meja  agar mengisi sunyi pada kertasnya
ia ingin menulis tapi tintanya tak nyata





sedikit cerita tentang yang banyak

Harusnya aku menyelesaikan TA tapi kenapa nge klik filenya aja aku ogah ya, padahal ingin segera sidang Mei. :’)
Di awal menuju pertengahan tahun ini aku mau kembali nulis blog karena menyadari bahwa aku emang perlu menulis untuk kesehatan mental. Karena menulis adalah media untuk healing from everything gitude he he he, ya kan. Dan karena aku kesulitan dan tidak mendukung sebuah basa-basi jadi…Aku baru tahu kalau semua orang di umur 20 an mengalami fase “aku sebenernya mau ngapain yah, mau jadi apa ya?” karena ternyata teman-temanku mengalami itu. Cerita ini ada karena aku magang di Ravacana Films, rumah produksi di Jogja. Waktu itu aku udah kekeuh sekali mau magang di perfilman atau yang ada kaitannya dengan film. Banyak PH yang aku daftarin sampai aku nggak inget aku udah kirim CV kemana aja. Terus aku menghubungi Ravacana dan akhirnya magang disitu wkwk. Dari Ravacana aku jadi tau gimana “proses syuting” yang bener (oiya ini bukan sponsor ya) karena aku tau banget selama aku perna…

Abu

yang dulu, selalu berdekatan dengan kamu
dan rindu. kini, ternyata pun masih sama. masih rindu
tubuhku rela disetubuhi rindu.memang, kamu dan aku kini
sudah menjadi abu.
kamu membakar semuanya.
tunggu,
aku lupa. entah kamu, aku, atau
mungkin kita memang lupa
memadamkan api. tidak penting. lupakan saja.
toh, kini kita sudah menjadi abu. toh, kini kamu pun sudah....
ah, sial! aku lupa apa yang ingin ku katakan
tiba-tiba aku melihat bola matamu.sorot matamu selalu ada sejauh
manapun mataku memandang.
tapi, ada pula sorot mata yang lain, menghalangi pandanganku. ah, ya sudah. tidak apa-apa.
kini aku dan kamu sudah menjadi abu. K

Luka

Tidak sama seperti sebelumnya. kali ini aku menulis dalam perasaan kesal dan marah. tapi perlu kau ketahui, memendam amarah sangatlah lebih mudah daripada harus memendam rindu. dan kini aku sedang melakukan keduanya. ketika aku merindu, perlahan lahan aku menggoreskan luka di tubuh sendiri. sebenarnya aku pun tidak mau merindukan bajingan itu. luka. menyebutnya bajingan membuatku marah, merindunya membuatku luka.  cinta dan kawan kawannya memang selalu menimbulkan luka. bahkan, kalimat sayang yang lembut sekalipun. sedangkan rindu, rindu adalah bagian yang paling melukai. luka dari segala luka. dan kini aku terluka oleh rindu yang entah darimana datangnya. tidak jarang rinduku berubah menjadi pikiran pikiran yang memenuhi kepalaku, sehingga membuatku memakai barang pemberianmu, memutar rekaman berdurasi 20 detik yang kau kirim, dan membuka fotomu. bahkan, rindu itu juga berubah menjadi kata umpatan dan air mata.  dikutuk rindu, membuatku jadi bodoh. aku tak mengerti apakah aku harus …

Bayang

Berbaring aku dibawah terang bintang  tetapi matamu lah bintang yang paling terang ku pejamkan mata aku melihat bayang-bayang  ku letakkan telapak tangan diatas dada
jika ada yang bertanya, sedang apa aku aku sedang melakukan pekerjaan mengenang. -k

Antara Takdir dan Kebetulan