Selasa, 17 Januari 2017

Abu

yang dulu, selalu berdekatan dengan kamu
dan rindu.

kini, ternyata pun masih sama. masih rindu
tubuhku rela disetubuhi rindu.

memang, kamu dan aku kini
sudah menjadi abu.
kamu membakar semuanya.
tunggu,
aku lupa. entah kamu, aku, atau
mungkin kita memang lupa
memadamkan api.

tidak penting. lupakan saja.
toh, kini kita sudah menjadi abu.

toh, kini kamu pun sudah....
ah, sial! aku lupa apa yang ingin ku katakan
tiba-tiba aku melihat bola matamu.

sorot matamu selalu ada sejauh
manapun mataku memandang.
tapi, ada pula sorot mata yang lain, menghalangi pandanganku.

ah, ya sudah. tidak apa-apa.
kini aku dan kamu sudah menjadi abu.

K

Senin, 15 Agustus 2016

Luka

Tidak sama seperti sebelumnya. kali ini aku menulis dalam perasaan kesal dan marah. tapi perlu kau ketahui, memendam amarah sangatlah lebih mudah daripada harus memendam rindu. dan kini aku sedang melakukan keduanya. ketika aku merindu, perlahan lahan aku menggoreskan luka di tubuh sendiri. sebenarnya aku pun tidak mau merindukan bajingan itu. luka. menyebutnya bajingan membuatku marah, merindunya membuatku luka. 
cinta dan kawan kawannya memang selalu menimbulkan luka. bahkan, kalimat sayang yang lembut sekalipun. sedangkan rindu, rindu adalah bagian yang paling melukai. luka dari segala luka. dan kini aku terluka oleh rindu yang entah darimana datangnya. tidak jarang rinduku berubah menjadi pikiran pikiran yang memenuhi kepalaku, sehingga membuatku memakai barang pemberianmu, memutar rekaman berdurasi 20 detik yang kau kirim, dan membuka fotomu. bahkan, rindu itu juga berubah menjadi kata umpatan dan air mata. 
dikutuk rindu, membuatku jadi bodoh. aku tak mengerti apakah aku harus diam saja atau mengatakannya padamu. tapi, jika aku mengatakan ini padamu, belum tentu kau akan mengerti. Bisa jadi kau malah tidak peduli, dan semakin melukai.


"Sebab, rinduku melahap semuanya. Karena kau enggan memadamkan. Aku mati"

Yogyakarta, 15 Agustus 2016
Karisa Saraswati Danutami (2 hari sebelum kemerdekaan RI, masih dijajah rindu)

Senin, 13 Juni 2016

Bayang

Berbaring aku dibawah terang bintang 
tetapi matamu lah bintang yang paling terang
ku pejamkan mata
aku melihat bayang-bayang 
ku letakkan telapak tangan diatas dada

jika ada yang bertanya, sedang apa aku
aku sedang melakukan pekerjaan
mengenang.
-k

Minggu, 12 Juni 2016

Antara Takdir dan Kebetulan



 Aku sulit membedakan antara takdir dan sebuah kebetulan.
Keduanya seperti sepasang anak kembar yang berlari ke arah ibunya.
Seperti kamu yang datang padaku.
Dan aku mempersilahkan.
Lalu kita berbincang. Bertukar canda, derita, tawa, dan air mata.
Sampai aku lupa
apakah ini takdir atau kebetulan yang hanya segelintir?

Jika hanya sebuah kebetulan, aku ingin hidupku dipenuhi dengan seribu kebetulan.
Agar kamu tetap ada disana.
Lalu, aku dan kamu menikmati sebuah kebetulan yang manis.
Duduk berdua di bawah sinar senja bersama secangkir kopi yang pahitnya kita bagi dua.
Kadang kita lupa menambahkan gula. Karena berdua, pahit pun tak terasa.

Pertemuan kita akan menjadi sajak paling indah.
Gula yang paling manis.
Kopi yang paling pahit.
Melati  yang paling putih.
Mawar yang paling merah.
Bintang yang paling terang.
Bulan yang paling sempurna.
Langit yang  paling biru.
Dan kita menjadi sepasang merpati yang terbang paling tinggi.
Mengepakkan sayap atas nama cinta.
Tanpa peduli takdir atau sebuah kebetulan.
Karena,
Cepat atau lambat.
Sekarang atau nanti.
Hari ini atau lusa.
Aku akan mencintaimu. Karena kau mencintaiku.

-K

Senin, 16 Mei 2016

Sesaat

Pertemuan kita yang singkat 
Dan aku tersesat di bola matamu yang pekat. 
Meninggalkan pilu yang dahsyat 
Terpikat dalam pertemuan yang sesaat sekaligus menyayat

Pertemuan kita yang hanya beberapa hari
Di kepalaku tersimpan memori
yang
Terlalu indah untuk dilupakan
Tapi sakit bila diabaikan.
 -K